Jumat, 12 November 2010

Report of Silent Reading


TUMBUHKAN MINAT & GEMAR MEMBACA DI SDI DIAN DIDAKTIKA MELALUI REPORT OF SILENT READING

Buku adalah gudang ilmu, membaca adalah kuncinya. Buku adalah jendela dunia.
Pepatah di atas berlaku sepanjang masa dan tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Pepatah yang menurut saya, tak pernah usang oleh waktu. Dan ini saya yakini dengan sepenuh hati. Tentu saja, karena buku harus menjadi sahabat dalam hidup kita. Buku juga harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Dengan buku kita bisa melihat sisi lain dari dunia yang sebelumnya kita pernah tahu  yang ternyata sangat bermacam-macam bentuknya. Membuat kita bisa mengetahui apa yang sebelumnya tidak kita ketahui. 



The Report of Silent Reading
Di SDI Dian Didaktika dijalankan sebuah program untuk menumbuhkan minat dan cinta membaca yang disebut dengan  SILENT READING, dimana siswa-siswa yang telah membaca 5 judul buku akan mendapatkan satu Stamp pada report of silent readingnya, dan jika sudah mencapai 20 Stamp maka akan mendapatkan sebuah PIN silent reading yang akan menjadi kebanggaan setiap siswa yang mendapatkannya. Dibalik pemberian reward stamp dan PIN, sangat diharapkan wawasan dan pengetauan anak bertambah serta dapat membantu siswa yang bersangkutan dalam mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Ternyata dengan program tersebut minat baca siswa SDI Dian Didaktika menunjukkan peningkatan yang sangat baik. 






Reading at "Reading Corner"
 Banyak siswa yang pada awalnya kurang suka membaca dengan adanya program tersebut  menjadi gemar mengunjungi perpustakaan untuk membaca. Selain itu pada setiap kelas difasilitasi dengan Reading Corner sehingga setiap siswa dapat membaca buku disela waktu luangnya

At Reading Corner



by : setyowigati

Hari Besar Nasional di Dian Didaktika


PERINGATAN HARI BESAR NASIONAL
SUMPAH PEMUDA DAN HARI PAHLAWAN
DI SD ISLAM DIAN DIDAKTIKA



Kegiatan peringatan Hari Besar Nasional Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan tahun 2009 di SDI Dian Didaktika telah dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 9 Nopember 2009, dimulai pada pukul 07.45 WIB sampai dengan pukul 11.00 WIB. Bertempat  di SDI Dian Didaktika


Pelaksanaan kedua hari besar nasional tersebut dilaksanakan bersamaan karena kedua hari besar nasional itu berada pada waktu yang  berdekatan dengan demikian dapat menghemat di beberapa aspek terutama efektivitas waktu dengan tidak mengurangi arti dari peringatan kedua Hari Besar Nasional tersebut.

Peringatan kedua hari besar nasional tersebut pada tahun ini dikemas dalam dua bentuk kegiatan yaitu seni pertunjukkan dan berbagai macam lomba, yang diharapkan dapat menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai kebangsaan, percaya diri, kemandirian, kedisiplinan dan keterampilan siswa dengan mengedepankan pendidikan akhlak dan budi pekerti yang luhur.


Kegiatan peringatan Hari Besar Nasional Sumpah Pemuda  dan Hari Pahlawan yang dilaksanakan di SDI Dian Didaktika diharapkan dapat memberikan pembelajaran bagaimana menghargai jasa para pahlawan kepada seluruh siswa, karena dengan tertanamnya rasa menghargai jasa para pahlawan diharapkan para siswa dapat menjadi manusia  Indonesia yang benar-benar mencintai tanah air dan bangsanya dan dengan itu bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar.

Tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Allah SWT, menanamkan nilai-nilai kebangsaan, memupuk rasa percaya diri, menanamkan dan menumbuhkan jiwa kemandirian, kerjasama dan persatuan serta meningkatkan kedisiplinan dan keterampilan siswa

Peserta kegiatan ini adalah seluruh siswa SDI Dian Didaktika, untuk kegiatan lomba diikuti oleh siswa kelas 1 sampai dengan kelas 6 sedangkan pengisi acara kegiatan seni pertunjukan adalah  siswa/i kelas 4. Dengan pembimbing seluruh Panitia kegiatan.

Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya bagi seluruh panitia dan semua pihak yang telah membantu suksesnya kegiatan kali ini, semoga semua yang telah kita lakukan bernilai ibadah.Amiin.


by : setyowigati

Mengajarkan Shalat pada Anak

Buku Laporan Sholat (BLS)
Mengajarkan Shalat Pada Anak 
di SDI Dian Didaktika




Shalat Jamaah Siswa Kls 2 SDI Dian Didaktika
“ Mi, nilai BLS Kakak menurun jadi B+” ucap Jiilan lirih. Bocah kecil yang duduk di bangku kelas 2 SDI Dian Didaktika itu kelihatan bersedih. Jiilan yang selama ini selalu mendapatkan nilai A pada BLSnya, kali ini merasa bersalah karena nilai BLSnya menurun akibat dia tidak shallat subuh karena bangun kesiangan. BLS adalah Buku Laporan Shalat siswa sebagai laporan dan bahan evaluasi bagi guru dilingkup SDI Dian Didaktika yang terletak di Cinere, Depok.


Shalat Jamaah Siswi Kls 2 SDI Dian Didaktika
BLS diberikan pada ananda agar ananda mampu menjalankan shalat dengan baik serta taat menjalankan shalat 5 waktu dengan menghayati dan mengamalkannya. Selain itu ananda juga diharapkan mampu membaca Al-Quran dengan lancar dan baik serta dapat mengamalkannya

Alhamdulillah sejak bersekolah di Dian Didaktika, Cinere Depok, Jiilan sudah mulai rajin Shalat, Sejak TK ia selalu mengajak ayahnya untuk shalat berjamaah ke masjid, bahkan setelah memasuki SD kelas 1 Jiilan sudah mulai Shalat 5 waktu tanpa diingatkan. Selidik punya selidik ternyata para guru di kelas 1 setiap pagi selalu bertanya “ Siapa yang hari ini Shalat Subuh? Siapa yang Shalatnya 5 waktu? Siapa yang Shalatnya 4 waktu ? “ dan seterusnya. Itulah salah satu hal yang memotivasi Jiilan untuk rajin menjalankan ibadah shalat. Selain itu biasanya anak sangat suka dengan pujian atau reward, BLS adalah salah satu cara untuk memberikan reward pada ananda atas prestasi Shalat dan mengajinya

by : setyowigati

Ekstrakurikuler Bahasa Inggris Dian Didaktika


EKSTRAKURIKULER BAHASA INGGRIS
DIAN DIDAKTIKA ISLAMIC ELEMENTARY SCHOOL


Dancing & Singing Together
 Kemajuan teknologi serta semakin cepatnya arus komunikasi menyebabkan semakin banyak tuntutan yang diberikan kepada setiap individu untuk dapat beradaptasi dengan kemajuan yang ada. Konsekuensinya adalah semakin banyak pula tuntutan serta kemampuan yang harus dimiliki oleh generasi selanjutnya agar dapat berhasil beradaptasi dengan perubahan bahasa.

Oleh karena itu sudah menjadi tugas kita sebagai pendidik dan orang tua untuk mempersiapkan ananda sebagai generasi penerus dengan bekal yang memadai. Salah satu tuntutan yang harus dipenuhi adalah kemampuan untuk berbahasa asing yang tentu saja akan berguna pada kehidupan yang akan datang


COOKING
Kemampuan bahasa akan semakin baik apabila diajarkan sejak dini, khususnya pada masa kanak kanak agar mereka terbiasa mendengar serta mengucapkan bahasa yang diajarkan serta dapat mempersiapkan mereka sehingga mereka akan menjadi lebih mudah untuk mempelajari bahasa tersebut di masa yang akan datang pada tingkat yang lebih sulit.

Kegiatan ekstrakurikuler Bahasa Inggris yang diselenggarakan di SDI Dian Didaktika secara keseluruhan akan bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan bahasa Inggris ananda serta dapat meningkatkan “ self confidence” atau rasa percaya diri yang tinggi utuk dapat bereksplorasi lebih banyak dalam berbagai hal.


GAMES
Kegiatan kegiatan yang biasa dilakukan pada ekstrakurikuler ini antara lain vocabulary learning, listening, understanding reading and comprehension, cooking, art and craft, performance serta super camp


by : setyowigati

Kamis, 11 November 2010

DD English Club Activities

DD English Club Activities

 (Cooking, Dancing, Etc.)

Learning doesn't have to sit nicely in the class but also can be done by playing, cooking or other activities.












by : setyowigati

Sabtu, 06 November 2010

JENIS-JENIS DISLEKSIA

Tidak semua anak disleksia memperlihatkan seluruh gejala, yang mencirikan adanya disleksia ringan, sedang, hingga berat.

Sebagian ahli membagi disleksia sebagai visiual, disleksia auditori dan disleksia kombinasi (visual-auditori). Sebagian ahli lain membagi disleksia berdasarkan apa yang dipersepsi oleh mereka yang mengalaminya yaitu persepsi pembalikan konsep (suatu kata dipersepsi sebagai lawan katanya), persepsi disorientasi vertical atau horizontal (huruf atau kata berpindah tempat dari depan ke belakang  atau sebaliknya, dari barisan atas ke barisan bawah dan sebaliknya), persepsi teks terlihat terbalik seperti di dalam cermin, dan persepsi di mana huruf atau kata-kata tertentu jadi seperti “ menghilang.”
Siapa saja yang dapat mengalami disleksia?
Siapa saja, tanpa memandang jenis kelamin, suku bangsa atau latar belakang sosio-ekonomi-pendidikan, bisa mengalami disleksia, namun riwayat keluarga dengan disleksia merupakan factor risiko terpenting karena 23-65% orangtua disleksia mempunyai anak disleksia juga.
Pada awalnya anak lelaki dianggap lebih banyak menyandang disleksia, tapi penelitian – penelitian terkini menunjukkna tidak ada perbedaan signifikan antara jumlah laki dan perempuan yang menglami disleksia. Namun karena sifat perangai laki-laki lebih kentara jika terdapat tingkah laku yang bermasalah, maka sepertinya kasus disleksia pada laki-laki lebih sering dikenali dibandingkan pada perempuan.
Bisa sembuh kah? 
Penelitian retrospektif menunjukkan disleksia merupakan suatu keadaan yang menetap dan kronis. “Ketidak mampuannya” di masa anak yang nampak seperti “menghilang” atau “berkurang” di masa dewasa bukanlah kareana disleksia nya telah sembuh namun karena individu tersebut berhasil menemukan solusi untuk mengatasi kesulitan yang diakibatkan oleh disleksia nya tersebut.
Mengingat demikian “kompleks”nya keadaan disleksia ini, maka sangat disarankan bagi orang tua yang merasa anaknya menunjukkan tanda-tanda seperti tersebut di atas, agar segera membawa anaknya berkonsultsi kepada tenaga medis profesional yang kapabel di bidang tersebut. Karena semakin dini kelainan ini  dikenali, semakin “mudah” pula intervensi yang dapat dilakukan, sehingga anak tidak terlanjur larut dalam kondisi yang lebih parah.
Apa yang dapat dilakukan
  • Adanya komunikasi dan pemahaman yang sama mengenai anak disleksia antara orang tua dan guru
  • Anak duduk di barisan paling depan di kelas
  • Guru senantiasa mengawasi / mendampingi saat anak diberikan tugas, misalnya guru meminta dibuka halaman 15, pastikan anak tidak tertukar dengan membuka halaman lain, misalnya halaman 50
  • Guru dapat memberikan toleransi pada anak disleksia saat menyalin soal di papan tulis sehingga mereka mempunyai waktu lebih banyak untuk menyiapkan latihan (guru dapat memberikan soal dalam bentuk tertulis di kertas)
  • Anak disleksia yang sudah menunjukkkan usaha keras untuk berlatih dan belajar harus diberikan penghargaan yang sesuai dan proses belajarnya perlu diseling dengan waktu istirahat yang cukup.
  • Melatih anak menulis sambung sambil memperhatikan cara anak duduk dan memegang pensilnya. Tulisan sambung memudahkan murid membedakan antara huruf yang hampir sama misalnya ’b’ dengan ’d’. Murid harus diperlihatkan terlebih dahulu cara menulis huruf sambung karena kemahiran tersebut tidak dapat diperoleh begitu saja. Pembentukan huruf yang betul sangatlah penting dan murid harus dilatih menulis huruf-huruf yang hampir sama berulang kali. Misalnya huruf-huruf dengan bentuk bulat: ”g, c, o, d, a, s, q”, bentuk zig zag: ”k, v, x, z”, bentuk linear: ”j, t, l, u, y”, bentuk hampir serupa: ”r, n, m, h”.
  • Guru dan orang tua perlu melakukan pendekatan yang berbeda ketika belajar matematika dengan anak disleksia, kebanyakan mereka lebih senang menggunakan sistem belajar yang praktikal. Selain itu kita perlu menyadari bahwa anak disleksia mempunyai cara yang berbeda dalam menyelesaikan suatu soal matematika, oleh karena itu tidak bijaksana untuk ”memaksakan” cara penyelesaian yang klasik jika cara terebut sukar diterima oleh sang anak.
  • Aspek emosi. Anak disleksia dapat menjadi sangat sensitif, terutama jika mereka merasa bahwa mereka berbeda dibanding teman-temannya dan mendapat perlakukan yang berbeda dari gurunya. Lebih buruk lagi jika prestasi akademis mereka menjadi demikian buruk akibat ”perbedaan” yang dimilikinya tersebut. Kondisi ini akan membawa anak menjadi individu dengan ”self-esteem” yang rendah dan tidak percaya diri. Dan jika hal ini  tidak segera diatasi akan terus bertambah parah dan menyulitkan proses terapi selanjutnya. Orang tua dan guru seyogyanya adalah orang-orang terdekat yang dapat membangkitkan semangatnya, memberikan motivasi dan mendukung setiap langkah usaha yang diperlihatkan anak disleksia. Jangan sekali-sekali membandingkan anak disleksia dengan temannya, atau dengan saudaranya yang tidak disleksia.

Referensi :
·     J.H. Menkes, H.B. Sarnat B.L. Maria (2005). Learning disabilities, dalam: JH. Menkes, HB. Sarnat (penyunting). Child neurology, edisi ke-7. Lippincott Williams and Wilkins, Philadelphia.
·         Sally, Shaywitz, Bennett (2006). Dyslexia, dalam: KF. Swaiman, S. Ashwal, DM. Ferreier (penyunting). Pediactric neurology principles and practice, volume 1, edisi ke-4, Mosby, Philadelphia
·         S. Devaraj, S. Roslan (2006). Apa itu disleksia, panduan untuk ibu bapa, guru, dan kaunselor, dalam S. Amirin (penyunting). PTS Profesional, Kuala Lumpur.
·       G. Reid (2004). Dyslexia: A complete guide for parents. John Wiley and Sons, Ltd, England
·         R. Frank (2002). The secret life of dyslexic child, a practical guide for parents and educators. The Philip Lief Group, Inc, 2002.

 Sumber : Anakku / edisi 02/IV/Februari 2008