Kamis, 18 November 2010

Menulis Catcil

PROGRAM MENULIS CATCIL 
( Catatan kecil )
DI SDI DIAN DIDAKTIKA
TUMBUHKAN MINAT MENULIS PADA ANAK

T
eringat 25 tahun yang lalu ketika aku duduk dibangku Sekolah Dasar, ketika itu aku adalah seorang gadis kecil yang tergolong pendiam, yang tidak pandai mengungkapkan sesuatu secara verbal. Salah satu sahabat terbaikku adalah sebuah buku harian, apapun yang kurasakan semuanya kutuangkan dalam buku harianku itu. Buku itu kini menjadi benda sejarah sekaligus kenangan manis di masa kecilku
 
Belajar dari pengalaman, aku menyimpulkan tidak semua anak dapat menceritakan segala sesuatu secara verbal, ada anak yang bisa bercerita dengan gambar, sikap ataupun tulisan
Ternyata pengalaman kecilku terulang kembali pada anak sulungku. Ketika itu Jiilan sedang  duduk di bangku Taman kanak kanak (TK A) ketika sedang bermain tanpa disengaja ia mendorong temannya hingga masuk ke dalam kolam ikan. Ketika sampai dirumah aku meminta jiilan menceritakan kejadian itu, ternyata jiilan kurang mampu bercerita secara verbal. Keesokan harinya ibu guru yang  begitu bijak dan lembut meminta jiilan untuk menuliskan kejadian tersebut. Dengan lembutnya guru itu berkata “ jiilan kan sudah pandai menulis, coba tuliskan kejadian kemarin” ternyata dalam bentuk tulisan jiilan lebih mampu bercerita dengan leluasa daripada ia harus bercerita secara verbal



Catcil Jiilan yang diterbitkan pada Buletin DD
Menulis Catcil bisa menstimulasi tumbuhnya kebiasaan menulis, serta berkembangnya kemampuan menulis pada diri anak. Karena itu, tidak ada salahnya jika orang tua mengarahkan dan memfasilitasinya.
Pada usia sekitar 6 tahun (menjelang akhir 7 tahun pertama), anak-anak biasanya sudah bersekolah dan bisa menulis, merangkai huruf dan kata-kata menjadi sebuah kalimat. Seiring pertambahan usia dan pengalaman di lingkungannya, kosa kata yang dimiliki anak pun akan semakin kaya, sehingga orang tua sudah bisa mengenalkan Catcil pada anak. Memang tidak semua anak akan menunjukkan ketertarikan yang sama dan tidak bisa dipaksa. Akan tetapi, mengenalkan Catcil merupakan sebuah bentuk stimulus yang patut dicoba sebagai salah satu cara mengenali minat dan bakat anak. Dengan demikian, ada nilai manfaat dari Catcil untuk perkembangan anak.

Catcil Najla yang diterbitkan pada Buletin DD
Untuk memancing minat menulis catcil pada anak anakku, kurelakan buku harian kecilku dibaca oleh mereka. Dan sebagai seorang guru terkadang aku membacakan isi buku harianku pada murid muridku, sehingga mereka terpacu untuk menulis catcil seperti aku.
Alhamdulillah di sekolah anakku SDI Dian Didaktika  program menulis Catcil ini sudah berjalan sejak tahun 1995. Setiap siswa dari kelas 2 sampai dengan kelas 6 dibiasakan menulis Catcil minimal seminggu sekali, mereka mengumpulkan Catcilnya seminggu sekali pada hari yang sudah disepakati, kemudian catcil tersebut dibaca dan dikomentari oleh guru. Program menulis catcil ini merupakan ide dari Bapak Drs. Ahmat Toha yang ketika itu menjabat sebagai kepala SDI Dian Didaktika dan alhamdulillah hingga sekarang program tersebut masih berlangsung.
Manfaat Catcil untuk Anak
  • Media untuk mengekspresikan diri.
    Dengan menulis Catcil anak bisa mengungkapkan perasaannya, senang, sedih, kecewa ataupun marah yang mungkin tidak dapat ia katakan secara verbal/lisan

  • Melatih motorik halus.
    Kebiasaan menulis Catcil dapat meningkatkan kemampuan menulis anak. Dengan seringnya menulis motorik halus ananda akan terlatih

  • Mengasah bakat menulis dan meningkatkan minat menulis.
    Semua anak mungkin bisa menulis, tetapi tidak semua anak berbakat menjadi penulis. Anak yang berbakat akan menghasilkan tulisan yang lebih baik. Dengan menulis Catcil, bakat dan kemampuan menulis anak sangat mungkin tergali dan terasah secara pesat, sehingga kita juga bisa mendorong minatnya untuk lebih fokus dan konsisten

  • Sarana untuk mengungkapkan gagasan.
    Tidak semua anak mampu mengungkapkan atau mengkomunikasikan pikiran dan gagasannya melalui bahasa verbal. Ada banyak anak yang merasa lebih mudah menuangkan ide-ide dan pemikirannya melalui tulisan. Kebiasaan menulis catcil bisa menjadi sarana dan cara untuk menampung ide-ide tersebut

  • Mengasah imajinasi.
    Anak kecil selalu punya imajinasi yang kadang kala sulit dipahami logika orang dewasa. Imajinasi anak merupakan bagian dari ide-idenya yang bermanfaat untuk perkembangan kecerdasan kreatifnya. Menulis Catcil bisa menjadi sarana untuk mencurahkan imajinasinya yang tidak bisa diungkapkannya dengan berbicara langsung


by : setyowigati

Senin, 15 November 2010

Ayah yang Baik


Siapkan diri Anda sebagai seorang ayah sejak dini
Anda, sebagai suami telah terlibat secara langsung dengan anak, sejak pembuahan anak, sehingga istri mengandung. Masa kehamilan selama sembilan bulan tersebut dapat Anda gunakan untuk mempersiapkan diri sebagai seorang ayah. Sedapat mungkin, berperan aktiflah sebagai seorang suami, sekaligus calon ayah dengan turut berpartisipasi membantu kehamilan istri. Contohnya saja, mencari tahu sebanyak mungkin informasi mengenai kehamilan, gangguan, serta bagaimana cara mengatasinya. Berbelanja bersama istri untuk mempersiapkan kelahiran sang buah hati. Juga, ikuti kegiatan senam bayi, dan temanilah istri dalam menghadapi persalinan.
Ikut aktif dalam merawat bayi
Bantulah istri Anda untuk turut berperan aktif merawat buah hati. Dari penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa seorang ayah yang dari awal telah berperan aktif merawat bayinya (seperti mengasuh bayi, memandikannya, mengganti popok bayi, membuai bayi hingga mereka tertidur), memiliki kemungkinan yang besar akan melakukan hal tersebut hingga bulan selanjutnya. Hal itu terjadi karena kebiasaan ayah mulai terbentuk sejak dini. Dengan demikian, bayi akan semakin merasakan, mengenali kehadiran serta sosok Anda.
Bermain bersama
Ketika bayi Anda semakin bertambah besar, jangan lewatkan waktu bersamanya untuk bermain, membaca buku, serta melakukan aktivitas yang menyenangkan (seperti pada saat bayi merangkak, mulai belajar berbicara, hingga berjalan). Ciptakan permainan-permainan yang disenanginya, seperti bermain kuda-kudaan, pesawat terbang atau petak umpat (sesuaikan dengan perkembangan usia anak).
Ikut terlibat dalam kehidupan sosial anak Anda
Ketika anak Anda mulai beranjak sekolah, ia akan memulai kehidupan sosial yang baru. Usahakan terlibat dalam kehidupan sosial anak, dengan mengenali nama teman-temannya, dengan siapa dia bergaul, ataupun aktivitas yang dia lakukan bersama temannya.
Jadikan diri Anda sebagai pendengar yang baik
Kesibukan kerja terkadang membuat Anda mengabaikan cerita-cerita anak Anda. Berikan keseimbangan antara kerja dan keluarga. Luangkan waktu beberapa menit untuk mendengarkan si kecil bercerita dan mengerti keseluruhan cerita tersebut. Jadilah pendengar yang baik untuk anak Anda. Jika Anda hanya sekedar meng-ia-kan, atau mengatakan bahwa Anda sedang sibuk, kebiasaan anak bercerita akan menghilang.
Usahakan selalu berkomunikasi dengan baik
Jika Anda tinggal terpisah dan sedang berjauhan dengan anak Anda, usahakan untuk tetap menjalin komunikasi dengan baik, contohnya saja melalui telepon, SMS, internet (chating atau email), dan surat. Saat seperti ini juga dapat Anda gunakan untuk memberi kepercayaan dan tanggung jawab pada anak.

Beri kepercayaan pada anak
Berikanlah anak Anda kebebasan. Kepercayaan Anda akan membuat anak tumbuh menjadi anak yang mandiri dan percaya diri. Berikanlah ia pilihan, jangan hanya menempatkan anak pada satu pilihan. Lakukanlah hal tersebut mulai dari hal-hal kecil. Anda sebagai orang tua dapat selalu memantau dan membimbingnya.
Perlakukan anak Anda sesuai dengan usia yang dimilikinya
Semakin bertambah usia anak Anda, semakin berbeda pula kebutuhannya. Penuhi kebutuhannya seperlunya. Karena anak harus menjadi pribadi yang mampu bertahan dalam kehidupannya.

Sumber : http://www.enformasi.com/2008/12/menjadi-ayah-yang-baik.html
Ibu-Ibu Teladan Dalam Islam
« pada: Maret 13, 2007, 06:05:27 pm »

1. UMMU HANI'
Fakhitah binti Abi Thalib bin Abdul Muththalib adalah putri paman Rasulullah SAW. Ibunya adalah Fatimah binti Asad binti Hasyim. Dia adalah seorang wanita Quraisy yang mempunyai banyak pendapat dan adab yang tinggi. Dia terkenal dengan panggilan Ummu Hani'.

Rasulullah SAW pernah meminangnya pada zaman jahiliyah namun ayahnya telah menjanjikannya kepada Hubairah bin Abi Wahb untuk dikawinkan dengannya. Maka kawinlah Hubairah dengan Ummu Hani'.

Pada masa permulaan Islam, Ummu Hani' masuk Islam sedangkan suaminya tidak. Maka hukum Islam memisahkan antara keduanya. Ummu Hani' tetap memelihara keempat anaknya yang masih kecil.

Kemudian Rasulullah SAW pernah meminangnya sekali lagi, tapi Ummu Hani' menjawab : "Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada pendengaran dan penglihatanku. Sesungguhnya aku seorang janda yang mempunyai anak-anak kecil, sedangkan hak suami itu lebih besar. Aku khawatir jika aku mengurusi suamiku, maka aku akan menelantarkan urusan anakku. Dan jika aku mengurusi anakku, maka aku khawatir akan menyia-nyiakan hak suamiku."

Mendengar jawaban itu, maka Rasulullah SAW bersabda :
"Sesungguhnya sebaik-baik wanita yang menaiki unta di antara wanita Quraisy ialah yang paling menyayangi anak di waktu kecilnya dan paling memperhatikan kepentingan suami dalam harta miliknya." (hadits Syarif) (H.R. Bukhari dalam Shahihnya, Muslim, Abu Dawud, Nasai dan Ibnu Hibban)

Ummu Hani' memiliki kepribadian yang kuat. Adalah wanita Arab di zaman Islam - sebagaimana di zaman jahiliyah- melindungi orang yang takut dan mengamankan dari ancaman yang menakutkan. Dan Ummu Hani' binti Abi Thalib telah melindungi dua orang iparnya yang telah dijatuhi hukuman mati.

Ummu Hani' bercerita : Tatkala Rasulullah SAW tiba di Mekkah bagian atas, dua orang iparku dari bani Makhzum berlindung kepadaku. Kemudian Ali bin Abi Thalib, saudaraku, masuk. Dia berkata :"Demi Allah, aku akan membunuh kedua orang itu." Maka aku menutup pintu rumahku. Kemudian aku datang kepada Rasulullah SAW dan beliau bersabda :"Marhaban wa ahlan, wahai Ummu Hani'! Ada apa engkau datang ?" Lalu aku ceritakan kepada beliau tentang kejadian dua orang laki-laki dan Ali itu. Nabi SAW menjawab :"Kami telah melindungi orang yang engkau lindungi dan mengamankan orang yang engkau amankan. Maka janganlah membunuh kedua orang itu."

Enam penulis kitab Sahih telah meriwayatkan hadits-hadits dari Ummu Hani'. Dia hidup hingga sesudah pemerintahan saudaranya, Ali r.a.

Tiada yang lebih menunjukkan penghormatan pendapat wanita daripada hadits yang menceritakan bagaimana Ummu Hani' menyampaikan kepada Rasulullah SAW yang datang melamarnya alasan tentang uzurnya yang mencegahnya menempati kedudukan paling suci yang bisa dicapai wanita Muslim yaitu menjadi 'Ummul Mu'minin' waktu itu. Ternyata
Rasulullah SAW menghormati pendapatnya dan Quraisy pun mendapat penghormatan yang tinggi dan mulia.

Adakah yang lebih penyayang kepada anak daripada wanita yang berkorban dengan rela tidak menjadi Ummul Mu'minin demi memelihara anak-anaknya ? Kisah ini dipersembahkan kepada setiap ibu yang rela berkorban demi anak-anaknya.
Tercatat
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS 2:216)
faritz

2. Lubabah binti Al Haris bin Hazan Al-Hilaliah, Ibu Abdullah bin Abbas
Kitab-kitab biografi menunjukkan ada dua wanita yang bernama Lubabah. Yang mengherankan ialah, keduanya adalah bersaudara, kakak beradik. Yang besar adalah ibu Abdullah bin Abbas, pemuka (ulama) ummat. Sedangkan yang kecil adalah ibu Khalid ibnul Walid "pedang Allah yang
terhunus" dan digelari Al-Ashma'. Ke-Islaman dan persahabatannya dipermasalahkan, ebagaimana dikatakan oleh Abu Umar dalam "Al-Istii'aab" dan dibenarkan oleh Ibnu Katsir.

Lubabah yang besar termasyhur dengan kunyah (julukan) dan juga namanya. Dia adalah Ummul Fadhl, istri Al-Abbas bin Abdul Muththalib, ibu dari anak-anaknya : Al-Fadhl, Abdullah, dan lainnya.

Dia termasuk wanita utama di zamannya dan sudah lama masuk Islam. Putranya, Abdullah, berkata : "Aku dan ibuku termasuk orang-orang yang lemah dari kaum laki-laki, wanita dan anak-anak." (Hadits Riwayat Bukhari) Dia masuk Islam di Mekkah sesudah Khadijah binti Khuwailid r.a. dan mempunyai kedudukan di antara wanita-wanita Muslim.

Dikatakan tentang ibu Ummul Fadhl : bahwa dia adalah wanita yang paling mulia, menantu-menantunya adalah Maimunah disunting Nabi SAW, Al-Abbas menikah dengan Lubabah, Hamzah menikah dengan Salma dan Ja'far bin Abi Thalib menikah dengan Asma' yang semuanya adalah saudara sekandung. Kemudian, dia menikah dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., dan
setelah itu (sesudah Abu Bakar meninggal) dia menikah dengan Ali r.a. (setelah Fatimah r.a. meninggal juga).

Abu Umar dalam "Al-Istii'aab" berkata : Lubabah (Ummul Fadhl) adalah wanita yang mempunyai banyak anak (ibu dari enam orang anak Al-Abbas). Adalah Rasulullah SAW yang menziarahinya, sedang Ummul Fadhl adalah seorang wanita yang terhormat.

Disebutkan dalam salah satu hadits shahih : Bahwa orang-orang meragukan puasa Nabi SAW di hari Arafah. Kemudian Ummul Fadhl mengirim kepada beliau segelas susu, lalu beliau meminumnya di tempat wukuf. Maka tahulah mereka, bahwa Nabi SAW tidak puasa."

Ummul Fadhl adalah sahabat wanita yang meriwayatkan tiga puluh hadits dari Nabi SAW. Tiga hadits di antaranya diriwayatkan darinya dalam kedua kitab shahih : pertama Muttafaq alaihi (yang disepakati Bukhari dan Muslim), kedua riwayat Bukhari dan ketiga riwayat Muslim.

Putranya, Abdullah bin Abbas r.a. juga meriwayatkan hadits darinya. Disebutkan, bahwa dia berharap di awal kehidupannya, agar putranya menjadi orang terkenal. Dia menimang-nimang anaknya sambil berkata : "Aku tangisi diriku dan kutangisi keperawananku, jika dia tidak mengungguli bani Fihr dan selain Fihr."

Akhirnya Abdullah dapat mengungguli semua bani dengan ilmunya. Maka dia pun menjadi pemuka (ulama) ummat dan mempunyai ilmu yang banyak. Tidakkah kita ketahui, bagaimana Ummul Fadhl dalam menyayangi anak-anaknya ?

Ummul Fadhl wafat sebelum suaminya, Al-Abbas bin Abdul Muththalib, yaitu di masa khilafah Utsman bin Affan r.a.

Semoga Allah SWT memberkahi mereka semua. Amiin yaa Robbal'aalamiin.
Tercatat



3. Arwa binti Abdul Muththalib, Bibi Rasulullah SAW, Saudara Shafiyah

Arwa binti Abdul Muththalib masuk Islam di Mekkah, dan hijrah ke Madinah. Sebelum masuk Islam, dia mendukung Nabi SAW. Diceritakan, bahwa putranya, Kulaib bin Umair masuk Islam di rumah Arqam bin Abil Arqam Al-Makhzumi. Kemudian dia keluar, lalu masuk menemui ibunya, Arwa binti Abdul Muththalib, dan berkata :"Aku telah mengikuti Muhammad dan berserah diri kepada Allah."

Dan ibunya pun berkata : "Sesungguhnya orang yang paling patut engkau tolong dan dukung adalah putra pamanmu. Demi Allah, andaikata kami sanggup melakukan apa yang dilakukan oleh kaum laki-laki, niscaya kami telah mengikuti dan membelanya."

Maka Kulaib berkata : "Wahai, Ibuku, apa yang menghalangimu untuk masuk Islam dan mengikutinya, sedangkan saudaramu, Hamzah, telah masuk Islam ?" Arwa menjawab : "Aku menunggu apa yang dilakukan oleh saudara-saudara perempuanku, kemudian aku akan mengikutinya."

Kulaib pun berkata : "Aku memohon kepada Ibu, demi Allah, agar Ibu datang kepadanya dan memberi salam, lalu membenarkannya dan bersaksi bahwa : Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah." Kemudian Arwa mendukung Nabi SAW dengan lisannya dan mendorong putranya agar membela.

Setelah itu Abu Jahal dan sejumlah orang kafir di Mekah menghalangi Nabi SAW dan mengganggunya. Maka Kulaib bin Umar pun mendatangi Abu Jahal dan memukulnya hingga melukai kepalanya. Maka mereka mengambil dan mengikatnya. Kemudian Abu Lahab mencegahnya, lalu dia dilepaskan dan dia berkata kepada Arwa : "Tidakkah engkau
lihat putramu, Kulaib, telah menjadikan dirinya sebagai sasaran selain Muhammad ?"

Arwa menjawab :"Sebaik-sebaik harinya adalah hari ketika dia membela putra pamannya yang telah membawa kebenaran dari sisi Allah." Maka mereka bertanya :"Engkau telah mengikuti Muhammad ?" Arwa menjawab : "Ya."


Kemudian salah seorang di antara mereka keluar menuju Abu Lahab dan mengabari tentang hal itu. Abu Lahab datang hingga masuk kepadanya dan berkata :"Sungguh mengherankan, engkau telah mengikuti Muhammad dan meninggalkan agama Abdul Muththalib !"


Arwa menjawab : "Begitulah adanya. Pergilah engkau untuk membela dan menolong serta melindungi putra saudaramu. Jika dia menang, engkau boleh memilih antara masuk bersamanya atau tetap dalam agamamu. Jika dia benar, engkau telah mengajukan uzur mengenai putra saudaramu."

Maka Abu Lahab berkata : "Kami mempunyai kekuasaan atas bangsa Arab seluruhnya. Sedangkan dia datang membawa agama baru." Kemudian dia pergi. Arwa pun berkata : "Kulaib telah menolong putra pamannya, dia membantunya dengan tenaga dan hartanya."

Tidakkah kita ketahui, bagaimana sikap Arwa dalam menanggapi pendapat putranya dengan mengobarkan semangat dan mendukungnya ? Arwa menangisi ayahnya, Abdul Muththalib, seraya berkata : Mataku menangis dan ia patut menangis atas seorang yang pemurah dan mempunyai sifat malu.

Arwa menangisi Rasulullah SAW seraya berkata : Wahai Rasulullah, engkaulah harapan kami,
engkau baik kepada kami dan tidak benci.

Arwa wafat pada tahun 15 Hijriah.
Wallahu a'lam bishowab.
Tercatat
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS 2:216)

4. Ummu Aiman, Pengasuh Rasulullah SAW
Adakalanya anak yatim mendapatkan ganti pada selain ibunya, berupa kasih sayang dan pemeliharaan, sebagaimana dilakukan oleh Ummu Aiman. Berikut ini adalah kisahnya dari awal hingga akhir.

Ketika itu penduduk Mekkah sedang merayakan kemenangan terhadap tentara Gajah, sementara Aminah binti Wahb lebih suka mengasingkan diri dan tinggal sendirian. Dia ingin berbahagia dengan janin yang dirasakannya dalam kandungan. Akan tetapi, dia segera teringat suaminya yang tidak ikut merasakan kebahagiaan dengan kenikmatan tersebut.

Akan tetapi, cahaya yang dilihatnya telah memenuhi seluruh anggota tubuhnya berupa pancaran, kejernihan serta kebahagiaan dan membuat dia lupa akan penderitaan yang dialaminya. Allah SWT telah menimbulkan simpati di dalam hati orang-orang yang dipenuhi cinta dan kasih sayang terhadap anak yatim yang kemudian dilahirkan Aminah itu.

Oleh karena itu, sahaya perempuan dari Habasyah yang telah diwarisi anak yatim dari ayahnya yang telah tiada, begitu melihatnya, Allah memasukkan rasa cinta dan kasih sayang ke dalam hatinya kepada anak yatim itu, sehingga dia menyukainya. Maka, sahaya itu mengasuh
dan menyayangi serta mengutamakannya dengan tambahan cinta dan kebajikan serta kasih sayang yang biasa memenuhi hati para ibu. Hal itu berlangsung hingga datang wanita yang menyusuinya ke Mekkah, lalu mengambil anak yatim itu (Nabi Muhammad SAW) dari asuhannya dan asuhan ibunya, kemudian membawanya ke dusun. Ummu Aiman bersabar atas kepergian dan perpisahan ini.

Setelah itu, bayi yang sudah mulai tumbuh itu kembali dari dusun ke Mekkah, kepada ibu dan pengasuhnya untuk menikmati kasih sayang dan pemeliharaan mereka berdua. Lalu ibu anak itu membawanya ke Yatsrib untuk menziarahi saudara-saudara ibunya dari Bani Najjar. Pengasuh itu ikut pula bersama mereka berdua, dan anak ini pun bisa menikmati kasih sayang dari kedua hati yang mulia itu.

Setelah ibu dan anak itu berziarah ke makam ayah anak yatim itu, dia pun kembali bersama kedua ibunya yang mulia ke kampung halamannya, Mekkah. Akan tetapi, belum begitu jauh anak itu dari Yatsrib, sang ibu jatuh sakit, sebagaimana yang dulu menimpa ayahnya sebelum sampai ke Mekkah. Tatkala anak itu tiba di Abwa', datanglah kematian merenggut ibunya, sebagaimana ia telah merenggut ayahnya.

Maka anak itu menjadi yatim piatu sebagaimana dikehendaki Allah. Dia telah kehilangan ibu dan ayahnya. Sekarang tinggallah dia bersama pengasuhnya. Lalu dibawanya kepada kakek dan paman-pamannya seorang diri, dipelihara oleh hatinya yang mulia. Sejak waktu itu, Ummu Aiman menjadi ibu dari anak itu. Dia memeliharanya ketika bayi dan remaja hingga memasuki usia dewasa dan berkeluarga. Maka Muhammad SAW membebaskan dan mengembalikan haknya yang penuh dalam kehidupan yang mulia.

Ummu Aiman menikah dengan seorang laki-laki penduduk Yatsrib yang bermukim di Mekkah dan mempunyai anak laki-laki yang diberi nama Aiman. Mereka sempat pindah ke Yatsrib untuk beberapa lamanya, tapi kemudian suaminya meninggal dan dia kembali ke Mekkah bersama-sama dengan anaknya. Anak ini dia asuh bersama-sama dengan anak yatim yang sangat dicintainya itu (Muhammad SAW). Nabi Muhammad SAW pun tidak lupa terhadap ibu angkatnya ini, sehingga Nabi SAW mengungkapkan perasaannya terhadap Ummu Aiman dengan perkataan kesetiaan :
"Sesungguhnya dia (Ummu Aiman) adalah sisa dari keluargaku." [dari Al-Waqidi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Ishaabah].

Nabi SAW sangat berharap agar Ummu Aiman hidup dengan senang. Maka beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya : "Barangsiapa ingin kawin dengan wanita calon penghuni surga, hendaklah dia kawin dengan Ummu Aiman." [Siyar A'laamin Nubala', juz 2, halaman 159] Maka segeralah
bekas sahaya beliau, Zaid, mengawini Ummu Aiman.

Ummu Aiman hijrah dari Mekkah ke Medinah untuk menyusul orang yang paling dicintainya (Nabi SAW). Tiada yang menghiburnya di jalan kecuali imannya. Dia tiba di Medinah dan bertemu dengan anak-anaknya yang menyambut dan menyayanginya. Dia habiskan hari-harinya bersama
Nabi SAW di Madinah dan nyaris tidak pernah meninggalkannya.

Dalam perang Uhud, dia mengedarkan air dan memberi minum orang-orang yang terluka serta yang mengalami kepayahan. Ummu Aiman juga ikut dalam perang Khaibar bersama anaknya, menolong kaum Muslimin dan merawat mereka dengan kasih sayang.

Tatkala Nabi SAW kembali kepada Penciptanya, Ummu Aiman menangis atas terputusnya wahyu sebab kewafatan Nabi SAW itu. Ummu Aiman juga menyaksikan kematian Umar r.a. dan mengucapkan perkataan :"Sekarang Islam menjadi lemah." Di awal pemerintahan
Utsman r.a., Ummu Aiman menghadap Tuhannya dalam keadaan ridho dan diridhoi.

Inilah dia, Ummu Aiman, bekas sahaya Rasulullah SAW dan pengasuhnya yang diwarisi dari ayahnya, lalu Nabi SAW membebaskannya ketika beliau menikah dengan Khadijah binti Khuwailid. Dia menikah dengan Ubaid bin Zaid dan melahirkan anak bernama Aiman. Aiman menjadi sahabat Nabi SAW dan terbunuh pada perang Hunain. Zaid bin Haritsah adalah bekas sahaya Khadijah binti Khuwailid yang diberikan kepada Rasulullah SAW lalu dibebaskan dan dinikahkannya dengan Ummu Aiman setelah beliau menjadi Nabi. Ummu Aiman lalu melahirkan Usamah bin Zaid. Ummu Aiman hijrah dua kali dan meriwayatkan lima hadits dari Nabi SAW. [Thabaqat Ibnu Sa'ad, Taarikh Ath-Thabari, Shahih Bukhari dan Al-Ishaabah oleh Ibnu Hajar]
Tercatat
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS 2:216)
5. Halimah As-Sa'diyah, Ibu yang Menyusui Pemimpin Manusia
Semua orang yang mengenang kembali peristiwa-peristiwa dalam Siirah Nabawiyah tentu akan teringat akan Halimah As-Sa'diyah. Dia adalah seorang wanita yang berkarakter baik, berakhlak bagus dan berhati lembut.

Allah SWT telah memilihnya untuk menjadi ibu yang menyusui bagi pemimpin manusia. Halimah yang datang bersama wanita-wanita bani Sa'ad tidak menemukan selain anak yatim, cucu Abdul Muththalib untuk menyusuinya.

Halimah berasal dari bani Asad bin Bakr, suku Hawazin dan berakhir pada Qais 'Ailan. Andaikata dia bukan seorang wanita mulia dan tidak berakhlak lurus serta tidak berhati lembut, niscaya Abdul Muththalib tidak akan menyerahkan kedua cucunya, Muhammad dan Abu Sufyan untuk disusui oleh Halimah.

Muhammad tinggal dengannya selama 4 tahun dan Halimah pun mendidiknya dengan akhlak Arab, yaitu kehormatan diri, keberanian, berkata benar, dan bersifat jujur. Kemudian Halimah mengembalikan kepada keluarganya ketika Muhammad berusia 5 tahun lebih sebulan setelah dia dan keluarganya dipenuhi berkah dari anak yatim ini.

Nabi SAW sangat mencintai ibu yang menyusuinya itu, sehingga ketika seorang wanita bani Sa'ad mengabarinya bahwa Halimah telah wafat, beliau menangis. Kemudian pembawa kabar itu berkata : "Kedua saudara laki-laki dan perempuan engkau dalam kekurangan." Maka Nabi SAW mengirimkan kepada mereka barang-barang yang dibutuhkan. Pembawa kabar itu berkata pula :"Demi Allah, engkau adalah sebaik-baik anak yang dipelihara di waktu kecil dan sebaik-baik orang dewasa yang besar berkahnya."

Tidak diragukan lagi, bahwa berbagai kenangan itu mengembalikan beliau pada hari-harinya yang pertama. Beliau ingat masa kanak-kanaknya, kasih sayang ibu yang menyusuinya dan kerukunan
dengan saudara-saudara laki-laki dan perempuannya. Halimah As-Sa'diyah telah memeliharanya di waktu kecil dan tidaklah diragukan bahwa Halimah meninggalkan pengaruh yang dalam pada jiwanya. Ketika mendengar namanya disebut dalam hati beliau yang peka, maka berlinanglah air mata Nabi SAW.

Kepada setiap wanita yang memelihara anak yatim dengan sentuhan penuh kasih sayang, kata-kata yang menyenangkan hati atau senyuman yang mengobati jiwa, kami persembahkan kisah Halimah As-Sa'diyah dan imbalan yang diberikan Allah kepadanya berupa rezeki dan kebaikan serta pahala yang besar.

Kepada semua anak dari penyusuan, kami kemukakan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Abu Ya'la dan lainnya, dari jalan Ammaroh bin Tsauban, dari Thufail -bahwa Nabi SAW sedang
membagikan daging di Ji'ranah. Kemudian datang seorang wanita dari dusun. Ketika mendekat kepada Nabi SAW, beliau menggelar selendangnya bagi wanita itu. Kemudian wanita itu duduk di atasnya. Maka aku berkata :"Siapa wanita itu ?" Dan orang-orang pun menjawabnya : "Dia adalah ibu yang menyusuinya." [ al-Ishaabah, juz 7]


Tercatat
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS 2:216)


 sumber : http://forum.dudung.net/

Jumat, 12 November 2010

Report of Silent Reading


TUMBUHKAN MINAT & GEMAR MEMBACA DI SDI DIAN DIDAKTIKA MELALUI REPORT OF SILENT READING

Buku adalah gudang ilmu, membaca adalah kuncinya. Buku adalah jendela dunia.
Pepatah di atas berlaku sepanjang masa dan tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Pepatah yang menurut saya, tak pernah usang oleh waktu. Dan ini saya yakini dengan sepenuh hati. Tentu saja, karena buku harus menjadi sahabat dalam hidup kita. Buku juga harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Dengan buku kita bisa melihat sisi lain dari dunia yang sebelumnya kita pernah tahu  yang ternyata sangat bermacam-macam bentuknya. Membuat kita bisa mengetahui apa yang sebelumnya tidak kita ketahui. 



The Report of Silent Reading
Di SDI Dian Didaktika dijalankan sebuah program untuk menumbuhkan minat dan cinta membaca yang disebut dengan  SILENT READING, dimana siswa-siswa yang telah membaca 5 judul buku akan mendapatkan satu Stamp pada report of silent readingnya, dan jika sudah mencapai 20 Stamp maka akan mendapatkan sebuah PIN silent reading yang akan menjadi kebanggaan setiap siswa yang mendapatkannya. Dibalik pemberian reward stamp dan PIN, sangat diharapkan wawasan dan pengetauan anak bertambah serta dapat membantu siswa yang bersangkutan dalam mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Ternyata dengan program tersebut minat baca siswa SDI Dian Didaktika menunjukkan peningkatan yang sangat baik. 






Reading at "Reading Corner"
 Banyak siswa yang pada awalnya kurang suka membaca dengan adanya program tersebut  menjadi gemar mengunjungi perpustakaan untuk membaca. Selain itu pada setiap kelas difasilitasi dengan Reading Corner sehingga setiap siswa dapat membaca buku disela waktu luangnya

At Reading Corner



by : setyowigati

Hari Besar Nasional di Dian Didaktika


PERINGATAN HARI BESAR NASIONAL
SUMPAH PEMUDA DAN HARI PAHLAWAN
DI SD ISLAM DIAN DIDAKTIKA



Kegiatan peringatan Hari Besar Nasional Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan tahun 2009 di SDI Dian Didaktika telah dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 9 Nopember 2009, dimulai pada pukul 07.45 WIB sampai dengan pukul 11.00 WIB. Bertempat  di SDI Dian Didaktika


Pelaksanaan kedua hari besar nasional tersebut dilaksanakan bersamaan karena kedua hari besar nasional itu berada pada waktu yang  berdekatan dengan demikian dapat menghemat di beberapa aspek terutama efektivitas waktu dengan tidak mengurangi arti dari peringatan kedua Hari Besar Nasional tersebut.

Peringatan kedua hari besar nasional tersebut pada tahun ini dikemas dalam dua bentuk kegiatan yaitu seni pertunjukkan dan berbagai macam lomba, yang diharapkan dapat menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai kebangsaan, percaya diri, kemandirian, kedisiplinan dan keterampilan siswa dengan mengedepankan pendidikan akhlak dan budi pekerti yang luhur.


Kegiatan peringatan Hari Besar Nasional Sumpah Pemuda  dan Hari Pahlawan yang dilaksanakan di SDI Dian Didaktika diharapkan dapat memberikan pembelajaran bagaimana menghargai jasa para pahlawan kepada seluruh siswa, karena dengan tertanamnya rasa menghargai jasa para pahlawan diharapkan para siswa dapat menjadi manusia  Indonesia yang benar-benar mencintai tanah air dan bangsanya dan dengan itu bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar.

Tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Allah SWT, menanamkan nilai-nilai kebangsaan, memupuk rasa percaya diri, menanamkan dan menumbuhkan jiwa kemandirian, kerjasama dan persatuan serta meningkatkan kedisiplinan dan keterampilan siswa

Peserta kegiatan ini adalah seluruh siswa SDI Dian Didaktika, untuk kegiatan lomba diikuti oleh siswa kelas 1 sampai dengan kelas 6 sedangkan pengisi acara kegiatan seni pertunjukan adalah  siswa/i kelas 4. Dengan pembimbing seluruh Panitia kegiatan.

Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya bagi seluruh panitia dan semua pihak yang telah membantu suksesnya kegiatan kali ini, semoga semua yang telah kita lakukan bernilai ibadah.Amiin.


by : setyowigati

Mengajarkan Shalat pada Anak

Buku Laporan Sholat (BLS)
Mengajarkan Shalat Pada Anak 
di SDI Dian Didaktika




Shalat Jamaah Siswa Kls 2 SDI Dian Didaktika
“ Mi, nilai BLS Kakak menurun jadi B+” ucap Jiilan lirih. Bocah kecil yang duduk di bangku kelas 2 SDI Dian Didaktika itu kelihatan bersedih. Jiilan yang selama ini selalu mendapatkan nilai A pada BLSnya, kali ini merasa bersalah karena nilai BLSnya menurun akibat dia tidak shallat subuh karena bangun kesiangan. BLS adalah Buku Laporan Shalat siswa sebagai laporan dan bahan evaluasi bagi guru dilingkup SDI Dian Didaktika yang terletak di Cinere, Depok.


Shalat Jamaah Siswi Kls 2 SDI Dian Didaktika
BLS diberikan pada ananda agar ananda mampu menjalankan shalat dengan baik serta taat menjalankan shalat 5 waktu dengan menghayati dan mengamalkannya. Selain itu ananda juga diharapkan mampu membaca Al-Quran dengan lancar dan baik serta dapat mengamalkannya

Alhamdulillah sejak bersekolah di Dian Didaktika, Cinere Depok, Jiilan sudah mulai rajin Shalat, Sejak TK ia selalu mengajak ayahnya untuk shalat berjamaah ke masjid, bahkan setelah memasuki SD kelas 1 Jiilan sudah mulai Shalat 5 waktu tanpa diingatkan. Selidik punya selidik ternyata para guru di kelas 1 setiap pagi selalu bertanya “ Siapa yang hari ini Shalat Subuh? Siapa yang Shalatnya 5 waktu? Siapa yang Shalatnya 4 waktu ? “ dan seterusnya. Itulah salah satu hal yang memotivasi Jiilan untuk rajin menjalankan ibadah shalat. Selain itu biasanya anak sangat suka dengan pujian atau reward, BLS adalah salah satu cara untuk memberikan reward pada ananda atas prestasi Shalat dan mengajinya

by : setyowigati

Ekstrakurikuler Bahasa Inggris Dian Didaktika


EKSTRAKURIKULER BAHASA INGGRIS
DIAN DIDAKTIKA ISLAMIC ELEMENTARY SCHOOL


Dancing & Singing Together
 Kemajuan teknologi serta semakin cepatnya arus komunikasi menyebabkan semakin banyak tuntutan yang diberikan kepada setiap individu untuk dapat beradaptasi dengan kemajuan yang ada. Konsekuensinya adalah semakin banyak pula tuntutan serta kemampuan yang harus dimiliki oleh generasi selanjutnya agar dapat berhasil beradaptasi dengan perubahan bahasa.

Oleh karena itu sudah menjadi tugas kita sebagai pendidik dan orang tua untuk mempersiapkan ananda sebagai generasi penerus dengan bekal yang memadai. Salah satu tuntutan yang harus dipenuhi adalah kemampuan untuk berbahasa asing yang tentu saja akan berguna pada kehidupan yang akan datang


COOKING
Kemampuan bahasa akan semakin baik apabila diajarkan sejak dini, khususnya pada masa kanak kanak agar mereka terbiasa mendengar serta mengucapkan bahasa yang diajarkan serta dapat mempersiapkan mereka sehingga mereka akan menjadi lebih mudah untuk mempelajari bahasa tersebut di masa yang akan datang pada tingkat yang lebih sulit.

Kegiatan ekstrakurikuler Bahasa Inggris yang diselenggarakan di SDI Dian Didaktika secara keseluruhan akan bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan bahasa Inggris ananda serta dapat meningkatkan “ self confidence” atau rasa percaya diri yang tinggi utuk dapat bereksplorasi lebih banyak dalam berbagai hal.


GAMES
Kegiatan kegiatan yang biasa dilakukan pada ekstrakurikuler ini antara lain vocabulary learning, listening, understanding reading and comprehension, cooking, art and craft, performance serta super camp


by : setyowigati