Sabtu, 07 Januari 2012

“KIAT CERDAS MEREKAYASA POTENSI TERSEMBUNYI PADA SETIAP SISWA”

SEMINAR PENDIDIKAN
“KIAT CERDAS MEREKAYASA POTENSI TERSEMBUNYI  PADA SETIAP SISWA”

Nara sumber : Drs. Otib Satibi Hidayat, M.Pd.
 Seminar tersebut dilaksanakan di SD Islam Dian Didaktika pada Sabtu, 7 Januari 2012, sebagai realisasi program sekolah.
“Dan hendaklah kalian merasa khawatir jangan sampai meninggalkan keturunan (di belakang) nanti menjadi generasi / keturunan yang lemah, takutlah kalian akan hal itu, dan berkata benarlah kalian kepada mereka” (QS An Nissa ayat 9)
“ Setiap masa memiliki tuntutan-tuntutan dan setiap masa pula menuntut sumber daya manusianya” (Perkataan Syekh Qodiri)
“Aku diperintahkan untuk berbicara kepada manusia sesuai kadar akal mereka” (HR Ad dailani, Al Hasan bin Sufyan dari Ibnu Abbas)

Kita sebagai orang tua mempunyai tanggung jawab yang sangat besar untuk menjadikan anak-anak kita menjadi generasi yang mempunyai cukup bekal dalam menghadapi dan menjalani kehidupannya di masa depan. Seperti kita ketahui bersama bahwa anak-anak kita akan menjalani hidup di masa yang akan berbeda dengan masa hidup kita sekarang. Dan setiap masa atau zaman mempunyai  tuntutan yang berbeda, mempunyai situasi dan kondisi yang sangat berbeda dengan masa yang telah lewat. Akan terjadi pergeseran-pergeseran nilai dan norma dalam pergantian masa, yang harus kita selalu pantau dan jaga agar anak-anak kita tetap berada di jalur-jalur yang benar.
Kita sebagai orang tua dan pendidik perlu menyadari bahwa setiap anak adalah individu yang unik, yang masing-masing mempunyai potensi yang berbeda dan harus kita gali serta kembangkan. Jangan sampai kita buta akan potensi anak kita sendiri sehingga anak kita tidak  bias tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi-potensi yang dimiliki anak kita.
Esensi Pemahaman Pendidik / Orang tua pada pertumbuhan dan perkembangan Potensi anak usia TK :
Ø Anak perlu dorongan agar dapat menjadikan dirinya sebagai suatu individu yang unik. (Drive to Grow)
Ø Pada diri anak sesungguhnya terdapat wilayah kemampuan yang sangat potensial untuk dapat dikembangkan. (Zone of Proximal Development) yaitu masa kanak-kanak – remaja.
Ø Pendidik/orang tua/masyarakat harus mampu mendeteksi setiap fenomena potensi yang tersembunyi dari para siswa (Hidden Excellence Inpersonhood) kemudian diberikan rangsangan dan upaya terprogram agar potensi/kecerdasan tersebut berkembang secara optimal.

Penekanan (Stimulasi Kecerdasan) pada awal masa kanak-kanak adalah penting, karena kelenturan saraf akan menurun, sejalan dengan bertambahnya usia, hingga jaringan itu menjadi permanen di usia 15 – 16 tahun.
Untuk itulah kita sebagai orang tua dan pendidik harus tetap terus belajar bagaimana untuk dapat menjaga dan mendidik serta mengembangkan potensi-potensi yang ada di dalam setiap diri anak kita agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya dengan lupa kita sesuaikan dengan masa atau zaman anak kita hidup.
Mulai saat ini marilah sama-sama kita niatkan dan tekatkan dalam diri kita sebagai orang tua dan pendidik untuk menjadi yang terbaik untuk anak-anak kita, agar anak-anak kita menjadi generasi yang kuat dan terbaik di masanya.

Jumat, 02 Desember 2011

Belajar Matematika Asyik dengan "Gasing"


Belajar Matematika Asyik dengan "Gasing"

Banyak cara yang bisa digunakan agar anak menyukai dan mudah mengerjakan soal Matematika. Anggapan Matematika sulit bisa jadi karena metode pembelajarannya yang membuat anak susah memahami pelajaran ini. Ada sebuah metode yang bisa membuat Matematika menjadi menyenangkan, namanya Metode Gasing, yang merupakan singkatan dari gampang, asyik, dan menyenangkan. Sesuai dengan namanya, metode ini menggunakan cara unik untuk memudahkan anak mengerjakan soal-soal Matematika.
 Gasing dapat membuat seorang anak mampu memahami soal-soal Matematika dengan cara mencongak (menghitung di luar kepala). Selain itu, metode ini mengajak anak-anak untuk terbiasa dengan cara menghitung yang terbalik. Misalnya, untuk penjumlahan dua digit, dimulai dari satuan terbesarnya.
"Misalnya 37 ditambah 26, kita menjumlahkan dulu angka 3 dengan angka 2 dan ditambah satu, berarti 6. Baru kemudian menjumlahkan 7 dengan 6, yaitu 13. Tapi tulis saja 3, karena angka 1 sudah ditulis di depan. 37 ditambah 26 itu hasilnya 63. Lebih cepat," jelasnya.
"Anak akan terbiasa mengerjakan soal Matematika dengan cara mencongak. Jadi, semua soal Matematika bisa dikerjakan di luar kepala, artinya tidak menulis dan menghitung jari”
Anak yang ingin menggunakan metode ini harus memenuhi syarat kunci terlebih dahulu. Syaratnya, menguasai penjumlahan 1 sampai 20. "Misalnya 9 ditambah 7, harus langsung cepat menjawab 16. Selain itu, tentunya juga menguasai perkalian 1 sampai 10. Setelah itu baru bisa ngebut mengerjakan soal-soal yang lain. Dua digit, tiga digit, atau berapa pun tidak dikerjakan dengan menyusun ke bawah (ditulis). Semua harus dilakukan di luar kepala," 
Alhamdulillah…. Dua sesi pelatihan matematika metode Gasing akhirnya dapat dilaksanakan dengan baik. Kegiatan sosialisasi yang ditujukan hanya untuk orangtua murid kelas 1 dan kelas 2 SDI Dian Didaktika ini dilaksanakan pada hari sabtu  1 oktober dan 8 oktober 2011.
Secara umum dari kesan dan pesannya, orangtua sangat antusias bahkan beberapa orangtuamengusulkan agar sekolah membuat ekskul gasing tersendiri dan mengharapkan ada pelatihan lanjutannya. Insya Allah Dian didaktika akan terus mengupdate metode metode terbaru untuk buah hati kita tercinta……

Rabu, 13 April 2011

Sekolah Dian Didaktika kenalkan Permainan Tradisional pada Siswa

Sekolah Dian Didaktika kenalkan permainan tradisional pada siswa

Masa kanak kanak adalah masa yang seharusnya menyenangkan. Masa kanak kanak adalah masa yang dipenuhi dengan kegembiraan. Banyak waktu yang digunakan untuk bermain dengan berbagai macam permainan yang menyenangkan sehingga masa kanak kanak selalu dijadikan masa yang penuh kenangan bagi setiap individu.
Dunia bermain memang tidak dapat dipisahkan dari dunia anak anak, bermain merupakan salah satu kebutuhan bagi anak, hal tersebut sangat berpengaruh pada tumbuh kembangnya.
Permainan tradisional merupakan permainan yang relatif sederhana dan murah namun memberikan manfaat luar biasa jika kita menelusuri makna dari permainan itu secara mendalam. Namun keberadaannya sekarang mulai tergeser oleh permainan modern, seperti PlayStation (PS) dan jenis permainan canggih lainnya.
Alat permainan yang banyak digunakan saat ini sudah jarang sekali bersifat tradisional, kebanyakan permainan yang digunakan adalah permainan modern yang bersifat otomatis dan menggunakan tombol tombol saja seperti komputer, Play Station dan lain sebagainya.
Banyak Sekali Pengaruh dan manfaat Permainan Tradisional terhadap Perkembangan Jiwa Anak antara lain membuat anak mejadi lebih kreatif, bisa dijadikan terapi bagi anak, serta mengembangkan kecerdasan majemuk anak.
Sekolah Dian Didaktika yang terletak di daerah Cinere, Depok adalah salah satu sekolah yang mengajarkan permainan tradisional untuk melestarikan permainan tersebut. Pengurus BP-3 disekolah tersebut menyiapkan beberapa alat permainan tradisional tersebut. Permaianan permainan yang diajarkan antara lain Congklak, gangsing, lompat tali, bola bekel serta karambol.
Disaat istirahat, setelah anak makan snack pagi ataupun setelah makan siang anak anak memainkan permainan permainan tersebut, bahkan tak jarang guru kelaspun turut bergabung bersama mereka guna lebih meningkatkan kedekatan emosi antara guru dan siswa.
Berikut adalah cuplikan dari kegiatan saat mereka bermain menggunakan permainan tradisional.






Kamis, 10 Maret 2011

Pentas Seni SDI Dian Didaktika

 
Kejujuran Bekal Utama Siswa

Kejujuran adalah Bekal Utama Seseorang dalam mengarungi hidup. Berkata dan Berlaku Jujur harus dilakukan dimanapun, kepada siapapun, tak terkecuali kepada orang tua.

Maka inilah yang dibidik Sekolah Dasar Islam Dian Didaktika dalam kegiatan Pentas Seni yang dilakukan siswa kelas 2 disekolah tersebut pada hari Minggu 6 Maret 2011 yang lalu.
Gempuran arus globalisasi dari dunia barat, tak seharusnya menghilangkan karakter bangsa ini seperti nilai nilai moral, budi pekerti dan kejujuran.
Menanamkan nilai nilai tersebut diatas SD Islam Dian Didaktika melakukannya dengan menggelar pentas seni berjudul “ Hanya Satu yang tahu” pentas seni kali ini mengusung budaya Jawa Barat.

Mengisahkan tentang seorang anak yang bernama Dadang yang berbohong kepada ibunya demi menonton pertunjukan silat dikampungnya. Dadang yang sudah tidak memiliki ayah akhirnya menyesal karena telah berbohong kepada ibunya. Iapun menerima akibatnya yakni menerima tonjokan dari temannya yang salah sasaran. “ Ughh...ini pasti kerena saya tadi berbohong sama ibu...” bisik Dadang dalam hati.

Setelah menyadari kesalahannya Dadangpun bertaubat dan ia menjadi murid kesayangan seorang ustadz, dan sang ibupun memaafkan buah hatinya.

Persiapan kami sangat singkat, hanya 2 minggu. Ide menampilkan drama pentas seni dengan tema tersebut muncul, untuk menanamkan pengertian kepada siswa bahwasannya jika kita berbohong sekecil apapun, Allah tetap akan tahu karena Allah tidak pernah tidur dan maha Melihat ( Al- Basyir) dan maha mengetahui ( Al- Aliim)

Suasana mendadak haru dipenghujung pentas seni, saat anak anak menyanyikan lagu Ibu, sambil memberikan setangkai bunga mawar kepada ibu mereka masing masing. Para ibu tampak bahagia melihat buah hati mereka mempersembakan setagkai mawar.

Pentas seni ini juga diramaikan dengan Penampilan angklung,  Jaipong, Calung, Sisingaan, serta Murotal Alquran. Para tamu undangan juga dapat menikmati aneka makanan khas Jawa Barat seperti Batagor, Bajigur, serta Colenak. Pentas Seni ini juga di hadiri oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Dian Didaktika, Ibu Nunuk Sulastomo

Rabu, 09 Maret 2011

Hanya Satu Yang Tahu

Tanamkan Nilai Moral dan Budi Pekerti Pada Anak 
Melalui Pentas Seni

Menanamkan nilai nilai Normal dan membina akhlak dalam beragama pada anak-anak dapat dilakukan melalui cara yang efektif dan mudah dicerna. Diantaranya melalui  Pementasan Seni Pertunjukan , seperti yang diselenggarakan  di Sekolah Dasar Islam Dian Didaktika Cinere Depok dengan menggelar Drama dan Tari yang Berjudul “ Hanya Satu Yang Tahu “

Pementasan yang menampilkan siswa-siswa kelas 2 tersebut  mengambil  setting suasana pedesaan khas Sunda ( Jawa Barat ),  dengan menyuguhkan cerita betapa pentingnya menerapkan kejujuran dalam kehidupan sehari – hari  dengan menekankan bahwa Allah Maha Tahu, tidak ada satupun yang tidak diketahui oleh Allah SWT.


Persiapan Pementasan Pertunjukan Seni tersebut hanya  dilakukan selama 2 Pekan. Pementasan Pertunjukan Seni yang persiapannya sangat singkat ini, Alhamdulillah sangat baik diperankan oleh siswa-siswi kelas 2 bahkan sangat mengundang perhatian penonton. Pada Pementasan tersebut ada adegan adegan yang membuat Penonton tertawa terpingkal-pingkal, ada  pula adegan yang membuat penonton menangis karena haru .

Acara tersebut dibuka dengan Penampilan Calung dan ditutup dengan lagu “Ibu” (Hadad Alwi).
Dalam Pentas yang diselenggarakan Minggu Pagi (6/3/2011) di Auditorium Dian Didaktika tersebut, dalam salah satu adegannya digambarkan seorang ustadz mengadakan lomba,  Ustadz tersebut meminta setiap anak untuk menyembunyikan suatu benda ditempat yang tidak dapat diketahui oleh siapapun, semua peserta segera menyembunyikan ditempat-tempat yang berbeda yang menurutnya tidak akan ada seorangpun yang tahu. Ternyata ada seorang anak bernama Dadang tidak melakukannya, dengan alasan dimanapun ia sembunyikan pasti ada yang tahu yaitu Allah SWT. Maka Ustadz-pun memutuskan pemenangya adalah Dadang, padahal sebelumnya teman-teman Dadang mengolok-oloknya karena tidak menyembunyikan benda yang diberikan oleh Pak Ustadz.
Dadang bertindak demikian karena ia ingat akan nasihat ibunya, jika kita berbohong, walaupun orang lain tidak tahu tetapi Allah Maha Mengetahui.
Dari Pementasan Drama dan Tari tersebut, siswa-siswi para pemain tidak hanya belajar ber-acting tetapi juga banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik antara lain adalah Budi Pekerti.  Selain itu pula siswa secara tidak langsung mempelajari Kebudayaan Khas Jawa Barat, seperti Tari Jaipong, Pencak Silat, Sisingaan, Angklung serta Calung dan Setting Panggungpun dibuat seperti Rumah adat Sunda, serta didukung dengan Konsumsi untuk Para Undanganpun Makanan Khas Jawa Barat Seperti Batagor, Colenak, Comro, Misro, Rebusan Serta Minuman Bajigur.  

Semoga kita dapat tetap selalu mengajarkan dan menebarkan kebaikan dengan cara -cara yang mudah dicerna oleh anak-anak kita sehingga anak-anak kita kelak menjadi orang-orang yang dapat membawa bangsa ini dalam kondisi yang lebih baik.

Minggu, 20 Februari 2011

Olimpiade Sains Kuark 2011

Olimpiade Sains Kuark 2011 Masih Dilaksanakan Di
SDI Dian Didaktika

Olimpiade Sains Kuark 2011 serentak digelar di berbagai wilayah di Indonesia. OSK 2011 masih memberikan kepercayaan pada SDI Dian Didaktika sebagai OSK Center, untuk itu tempat pelaksanakan juga diadakan di SDI Dian Didaktika
Babak penyisihan OSK 2011 serentak diadakan di seluruh Indonesia, Sabtu (19/2/2011). Sekitar 600 orang siswa dari 32 sekolah di Depok dan sekitarnya mengikuti Olimpiade tersebut di SDI Dian Didaktika. 

 
Ada sekitar 20  ruang kelas yang digunakan untuk pelaksanaan Olimpiade tersebut. Selain itu ruang Auditorium-pun digunakan untuk siswa tambahan yang sebelumnya belum terdaftar.

Jumat, 18 Februari 2011

Selami Diri Siswa untuk mencetak siswa berkualitas


SELAMI DIRI SISWA
UNTUK MENCETAK SISWA YANG BERKUALITAS


Anak-anak yang merasa, atau dibuat tidak merasa, tidak diterima dan tidak kompeten akan lambat memulihkan rasa percaya diri dan, akibatnya, kemampuan mereka untuk memanfaatkan kesempatan belajar diperbesar yang disediakan sekolah tersebut bahkan mungkin berkurang, dalam kasus ekstrim, rusak dan tidak dapat diperbaiki lagi (Kajian Gordon Wells, 1986, The Meaning Makers: Children Learning Language and Using Language o Learn).
 Omar, seorang siswa kelas 4 SD terlihat murung didepan kelas. Selidik punya selidik teryata ia kecewa karena gagal mejadi juara dalam suatu competition. Omar yang memang mempunyai kemampuan dalam bidang tersebut, merasa juri pada lomba tersebut tidak adil. Hal yang dirasaka oleh Omar segera terbaca le Panitia, karena panitia yang terlibat adalah para guru yang mengerti akan “anak” maka setelah dipertimbangkan ternyata Omarlah yang menjadi juara Favorite. Dengan keputusan juri tersebut, dapat meningkatkan rasa percaya diri Omar serta dapat menigkatkan talenta Omar.

Kebanyakan guru-guru berpikir bahwa muridlah yang harus menyukai gurunya, mau tidak mau, mereka—para murid, harus tunduk dan patuh, mengikuti setiap pelajaran yang diberikan, mengerjakan semua tugas dan menghormati gurunya. Tuntutan tersebut merupakan suatu keharusan yang harus dilakukan oleh siswa sebagai bentuk kedisplinan.

Untuk menciptakan proses belajar-mengajar diperlukan suatu bentuk kerjasama team antara guru , siswa dan orangtua siswa. Sebagai guru kita harus membangun hubungan yaitu dengan menjalin simpati dan saling pengertian.
Hubungan membangun jembatan menuju kehidupan bergairah siswa, membuka jalan memasuki dunia-baru siswa, mengetahui minat mereka, berbagi kesuksesan dengan mereka dan berbicara dengan halus dengan mereka. Membina hubungan bisa memudahkan kita melibatkan siswa, memudahkan kita mengelola kelas, memperpanjang fokus belajar dan meningkatkan kegembiraan tidak hanya bagi siswa juga bagi kita sendiri.

Membuka komunikasi antara guru dan siswa yang tidak sekedar hanya sebagai basa-basi semata, tetapi secara jujur dan tulus, menciptakan kegembiraan dan mengubah sikap negatif siswa dan terpenting adalah menyiapkan siswa untuk terus belajar.

Siswa biasanya menciptakan suatu bentuk ketidaksukaan, rasa cemas, benci dan sebagainya bila berhadapan dengan guru-guru yang dianggap tidak bersahabat. Mereka menyebutnya sebagai "guru killer" atau menyebut dengan istilah tertentu, efeknya pelajaran yang diajarkan pun dianggap tidak menarik lagi, membosankan, gairah untuk belajar menjadi lenyap.

Tanggapan dan interaksi guru terhadap siswa sangat berpengaruh terhadap kelanjutan proses belajar anak, bila guru menghargai setiap usaha dan keberadaan siswa sebagai manusia yang sederajat maka akan menjadi umpan balik yang positif untuk kelangsungan belajar siswa.

Pengalaman-pengalaman perlakuan guru yang tidak menyenangkan, akan terus disimpan dalam memori otak anak sebagai cambuk yang menghambat otaknya untuk berprestasi.


Belumlah terlambat bagi kita untuk mengubah sikap kita, memperlakukan siswa-siswa kita,menjadi lebih baik dan lebih dihargai, bila kita dulunya tidak pernah tersenyum sampai akhir semester, saatnya kita mengubahnya, perhatikan perubahan reaksi siswa-siswa kita, semuanya akan lebih senang mengikuti pelajaran kita. Tidak ada lagi kata pelajaran yang membosankan, semuanya adalah menyenangkan.