Selasa, 26 Februari 2013
MY bLog"s FroM BWi: seminar matematika " konsep pembagian "
MY bLog"s FroM BWi: seminar matematika " konsep pembagian ": Konsep Pembagian Menghubungkan konsep penambahan-berulang dalam perkalian merupakan dua konsep yang berbeda dalam pembagian, tergantung p...
Kamis, 03 Januari 2013
Pencanangan Indonesia Berdendang
Pencanangan dilakukan di sela Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI), Epicentrum Walk (Epiwalk), Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (25/11/2012). Hadir dalam acara itu, Ibu Ani Yudhoyono, Menparekraf Marie Elka, Menteri ESDM Jero Wajik, Mentri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Ibu Linda Sari Gumelar, Ibu Ana Jokowi, Ketua Persatuan Artis Pencipta Lagu dan Penata Music Rekaman Indonesia (PAPPRI) Tantowi Yahya, dan perwakilan_DPR.
Dalam sambutannya, Ibu Ani menyatakan, gerakan 'Indonesia Berdendang 2013' merupakan komitmen bersama dari pemerintah dan pelaku industri musik serta kalangan lain yang terkait untuk memajukan musik Indonesia. Harapannya, musik Indonesia bisa menjadi raja di negeri sendiri.
"Lebih jauh, musik Indonesia diharapkan bisa diakui masyarakat dan dunia," kata Ibu Ani yang mengenakan batik warna hijau ini.
Usai memberi sambutan, Ibu Ani menekan 4 buah not yang kemudian dilanjutkan oleh salah satu anak berbakat (Daffa Jiilan Tsabit Sunanto) yang berasal dari Rumah Piano Music Course, siswa kelas 4 SDI Dian Didaktika Cinere ini kemudian melanjutkan lagu Indonesia Berdendang dan diikuti oleh ensamble biola dari Rumah Piano Music Course, setelah itu ibu negara menyaksikan pentas operet di panggung. Kemudian istri pucuk pimpinan RI ini berkeliling dan memantau sejumlah stand yag ada di area PPKI.
Dalam kesempatan tersebut Pemerintah memberikan juga memberikan
Pengahargaan kepada Pencipta Lagu Anak-Anak Legendaris yaitu : Bapak AT Mahmud
(Alm), Ibu Sud (Alm) dan Pak Kasur (Alm) serta kepada Pelaku Seni yang concern
kepada Dunia Pendidikan Anak yaitu Drs. Suyadi atau yang lebih dikenal sebagai
tokoh Pak Raden dalam serial boneka Si Unyil.
Dalam kesempatan itu dimeriahkan pula oleh Penyanyi Cilik yang kini sudah
beranjak Remaja Tasya Kamila dan Chika Jessica sebagai Pembawa Acara.
Senin, 01 Oktober 2012
Semakin Ikhlas Semakin Indah...........
Semakin Ikhlas Semakin Indah
Pernah
merasakan ditinggal mati oleh orang2 yang kita cintai? bisa
orang tua, pasangan hidup, anak, saudara atau siapa pun?
Apa yang
anda rasakan? kesedihan yang tak berkesudahan atau merelakan orang yang kita
cintai kembali ke Sang Pencipta? Rasa kehilangan itu, bersifat individual.
Begitu juga dengan proses untuk kembali bangkit dari keterpurukan.
Dalam
kedukaan yang pekat ada satu situasi kritis di mana seseorang seperti berada di
tepi jurang. Ada tiga pilihan di situ: diam, mundur, atau melompatinya.
Banyak
orang memilih melompat dan berhasil karena kesadaran yang kuat bahwa hidup
harus dilanjutkan. Untuk sampai pada keputusan itu, prosesnya bergantung pada
pergulatan yang sangat personal dalam diri setiap orang. Yang bisa dikenali
hanya pola, meski dukungan sangat dibutuhkan.
Namun
diakui, teman dan anggota keluarga adalah faktor penting pada masa-masa seperti
itu. Meski demikian, ketergantungan pada teman, sebagaimana pada anggota
keluarga, ada batasnya. Semua orang sibuk, anak- anak kita juga sibuk. Hidup
kita tidak boleh berhenti setelah pemakaman.
Kuncinya
Menerima
Life must
go on……….yang pulang tidak akan kembali. Kita harus ikhlas, karena kita semua memang harus pulang.
Tinggal waktunya saja. Pergulatan batin menuju ikhlas itu berlangsung cukup
lama tergantung tekad kita
Kita
harus segera sadar, untuk apa kita selalu berada dalam kondisi duka . kesedihan
membuat kita meninggalkan orang orang yang mencintai kita, dan membuat mereka
meninggalkan kita
Anakmu tanggung jawabmu
BERIKAN CONTOH YANG TERBAIK UNTUK
ANAKMU
Karin kecil terlihat sedang duduk disamping makam kakeknya,
menunggu dengan sabarnya, sementara sang ayah sibuk membersihkan makam sang
kakek.
Gadis mungil itu tiba tiba
terlihat tersenyum menyambut kedatanganku. Lalu kulambaikan tangan sambil
menyapanya “Hi Karin….. anak yang manis lagi periang itu kupeluk sesaat, kucoba
mengajaknya bercanda agar lebih dekat denganku.
Setelah ku membaca doa ziarah kubur, kami mencoba bercengkrama
dengan Karin. Ternyata karin anak yang suka bercerita. Dengan kepolosannya ia
menumpahkan perasaannya….betapa ia merindukan ayahnya untuk menemaninya
belajar, betapa ia menginginkan foto cantiknya menghiasi kamar dan Hanphone milik
ayahnya, namun itu semua tidak ia dapatkan “ayah selalu sibuk memandangi
foto kakek yang sudah meninggal, daripada menemaniku belajar. Foto kakek ada
dimana mana tapi fotoku nggak pernah ada “ celotehnya.
Anak
adalah peniru ulung. Sikap egois sang ayah ternyata dapat dengan mudah ditiru
olah sang anak. Apa yang dilakukan oleh ayah, pasti suatu saat akan dilakukan
oleh putra putrinya. Untuk itu hendaklah memberikan contoh tauladan yang baik
untuk anak anak kita, agar meraka menjadi anak yang seperti kita harapkan,
Figur
Ayah
Penting,
setiap anak merasakan sosok figur ayah hadir di hati mereka. Mereka rindu
belaian tangan kekar seorang ayah, mereka rindu suara tegas ayah, mereka butuh
figur seorang ayah untuk jadi contoh teladan dalam bersikap.
Bila
semua itu tak terpenuhi, bisa dipahami bila di kemudian hari anak-anak ini
menjadi pribadi yang bermasalah. Bila keadaan bertambah parah, baru kita
tersadar ada yang salah dari anak kita. Fatalnya, sebagian orangtua jarang mau
mengakui kesalahan itu, selalu anak yang disalahkan. Padahal, sesungguhnya
orangtualah yang membuat mereka menjadi pribadi yang bermasalah.
Ayah
Pendidik
Tidak
bisa disangkal bahwa kehilangan orang yang sangat kita cintai adalah suatu hal
yang sangat menyedihkan namun demikian akal sehat kita tetap harus berfungsi
dengan baik. Keimanan kitapun harus tetap dipertebal agar tidak mudah di
pengaruhi oleh hal hal yang buruk. Kita harus berfikir real bahwa kita masih
hidup didunia, masih ada kewajiban dunia yang harus lebih kita perhatikan,
karena kita akan diminta pertanggungjawaban diakhirat nanti. Anak dan istri,
orang tua bahkan lingkungan sekitar kita.
“Hai
orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar dan keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang di
perintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(At-Tahrim [66]: 6).
Dalam
suatu riwayat dikisahkan, seorang laki-laki datang menemui Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Dia bertanya, ”Hai Rasulullah, apakah
hak-hak bagi anakku terhadap diriku?” Rasulullah SAW menjawab: ”Hendaklah
engkau memberinya nama yang bagus, mendidiknya dengan baik, dan menempatkannya
di tempat yang baik.”
Ayah
Penuh Cinta
Betapa
sering kita abaikan anak-anak yang dititipkan pada kita. Padahal, anak adalah
amanah sekaligus anugerah terindah dari-Nya. Kita sering memposisikan anak
sebagai milik kita sehingga kita bebas memperlakukan mereka.
Kata
‘mendidik dengan baik’ dari Hadits di atas mengandung pengertian perlakuan yang
baik. Bukankah anak belajar dari perilaku kita? Bukankah anak akan belajar membenci
bila kita sering mencelanya. Begitupun ia akan belajar mencintai bila kita
mencintai dan menyayanginya.
Terkait
dengan menyayangi anak, Rasulullah SAW berpesan: ”Barangsiapa mencium anaknya,
Allah akan menuliskan untuknya satu kebajikan. Barangsiapa menggembirakan
anaknya Allah akan menggembirakannya di hari kiamat kelak. Barangsiapa
mengajarkan al-Qur’an kepada anaknya, maka kedua ibu bapaknya akan dipanggil
untuk diberi dua pasang pakaian yang indah dan dari wajah mereka akan tampak
bahwa mereka adalah penghuni surga.”
Siapa
yang tidak tahu bahwa tugas kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah sangat berat.
Jadwal hidupnya sangat padat untuk berdakwah dan mengurus umat, tapi beliau
masih tetap memperhatikan keluarganya. Cucu beliau, Hasan dan Husein tidak
takut menaiki punggungnya untuk bermain. Rasulullah SAW juga tidak canggung
bermain dengan anak-anak. Beliau biasa mencium anak perempuannya ketika
masyarakat Quraisy sangat membenci memiliki anak perempuan.
Begitupun
‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah SAW, sering memberi pesan kepada
putranya Hasan sebagai wujud cinta dan perhatiannya pada putranya. Simaklah
pesannya:
“…dan
kudapati engkau sebagai bagian diriku, malahan kudapati engkau sebagai
keseluruhan diriku, sehingga kalau ada sesuatu menimpamu, maka hal itu pun
menimpa diriku. Seandainya kematian datang kepadamu, maka hal itu juga datang
kepadaku. Apa saja yang engkau derita juga menjadikan diriku menderita.”
Jikalau
ikatan perasaan yang amat agung itu merupakan perasaan para ayah yang dicurahkan
kepada anaknya, maka dengan sendirinya akan timbul rasa hormat dan bakti anak
terhadap sang ayah. Ikatan agung inilah yang akhirnya melahirkan
generasi-generasi rabbani, generasi terbaik sepanjang masa yang siap
menyongsong kehidupan penuh rahmah.
Senin, 19 Maret 2012
Berlapang dada menerima kritik
Berlapang dada dalam menerima Kritik
Hari-hari maunya berjalan lancar dan menyenangkan, semua rencana berjalan baik, namun ada kalanya hal sebaliknya yang terjadi. Jangan bersedih. Percayalah, setelah kesulitan ada kemudahan. Kalau kita bisa bersikap wajar atas segala puja-puji dan penghargaan, tentunya kita bisa berlapang dada menghadapi kritik sepedas apapun, semenusuk apapun, sekalipun yang setajam pedang.
Jangan bersedih saat dikritik. Jangan emosional. Jangan reaksional. Jangan sampai kritik membuat kita lemah dan patah semangat. Jangan sampai kritik mengoyak rasa percaya diri. Jangan sampai kritik membunuh kita. Hadapi kritik dengan kepala dingin dan pikiran jernih.
Kritik adalah perintah untuk memperbaiki diri. Kritik adalah obat untuk membuat pikiran lebih sehat. Kritik adalah pemicu untuk mengasah kreativitas. Kritik adalah pemberitahuan bahwa kita harus belajar lebih baik lagi, bekerja lebih baik lagi, bersikap lebih baik lagi, bertindak lebih baik lagi.
Kalau kita masih sedih juga atas penilaian seseorang kepada kita, ambillah jeda, ambil waktu sejenak untuk diri kita, cari kekuatan di dalam diri kita. Dengan rendah hati, katakan pada diri kita memang harus ada yang harus kuperbaiki, memang ada yang harus kulakukan lebih untuk menambah kualitasku, lalu bangkitlah dari kesedihan, berdiri tegaklah, carilah, belajarlah, bertanyalah, agar dirimu menjadi lebih berkualitas dari sebelumnya.
Dalam menerima kritik, kita memerlukan beberapa trik, sehingga kita bisa menerima kritik tersebut sebagai sarana membangun kemuliaan. Bagaimana caranya?
Pertama, rindukanlah kritik dan nasihat tersebut. Selayaknya, kita bisa memposisikan diri menjadi orang yang rindu dikoreksi, dan rindu dinasihati. Seperti rindunya kita melihat cermin agar penampilan kita selalu bagus. Persepsi kita terhadap kritik akan lebih baik bila kita menanamkan di dalam hati bahwa kritik itu penting. Kritik adalah kunci kesuksesan dan kemajuan, kritik akan membuka prestasi, derajat, dan kedudukan yang lebih baik.
Kedua, cari dan bertanyalah. Belajarlah bertanya kepada orang lain dan nikmati saran-saran yang mereka lontarkan. Milikilah teman yang mau dengan jujur untuk saling mengoreksi. Tanyalah kekurangan diri pada orang-orang yang dekat dengan kita. Percayalah, semua itu tidak akan mengurangi kemuliaan.
Kedua, cari dan bertanyalah. Belajarlah bertanya kepada orang lain dan nikmati saran-saran yang mereka lontarkan. Milikilah teman yang mau dengan jujur untuk saling mengoreksi. Tanyalah kekurangan diri pada orang-orang yang dekat dengan kita. Percayalah, semua itu tidak akan mengurangi kemuliaan.
Ketiga, nikmati kritik. Persiapkan diri untuk menerima kenyataan bahwa koreksi itu tidak selalu harus sesuai dengan keinginan kita. Ada kalanya isinya benar, namun caranya salah. Tidak ada yang rugi dengan dikoreksi. Jadi, kalau ada yang mengkritik, usahakan untuk tidak berkomentar. Jangan memotong pembicaraan. Apalagi membantahnya. Belajarlah untuk diam dan menjadi pendengar yang baik.
Keempat, syukurilah. Jangan melempar komentar apapun kecuali ucapan terimakasih yang tulus kepada si pemberi kritik. Tampakkanlah raut muka yang sungguh-sungguh dan penuh perhatian. Sertakan namanya dalam doa-doa kita, terutama bila kita ingat akan kebaikan-kebaikan yang pernah ia berikan.
Keempat, syukurilah. Jangan melempar komentar apapun kecuali ucapan terimakasih yang tulus kepada si pemberi kritik. Tampakkanlah raut muka yang sungguh-sungguh dan penuh perhatian. Sertakan namanya dalam doa-doa kita, terutama bila kita ingat akan kebaikan-kebaikan yang pernah ia berikan.
Kelima, evaluasi diri. Jujurlah kepada diri sendiri ketika menerima kritik. Jangan sibuk menyalahkan pengkritik, atau mencari kambing hitam dengan menyalahkan orang lain.
Keenam, perbaiki diri. Buatlah program perbaikan dengan sungguh-sungguh. Jadikan program tersebut sebagai ungkapan rasa syukur terhadap kritik yang datang. Mintalah kepada Allah, sebab perubahan hanya terjadi dengan izin dan kekuasaan Dia.
Keenam, perbaiki diri. Buatlah program perbaikan dengan sungguh-sungguh. Jadikan program tersebut sebagai ungkapan rasa syukur terhadap kritik yang datang. Mintalah kepada Allah, sebab perubahan hanya terjadi dengan izin dan kekuasaan Dia.
Ketujuh, balas budi. Jangan lupa untuk mengirimkan tanda terima kasih. Bisa berupa barang berharga, makanan, sepucuk surat, atau-minimal-informasi kepada yang mengkritik bahwa kita berterima kasih atas kebaikannya.
Langganan:
Postingan (Atom)

